Pelepasan Remah 7

7:28:00 AM Admin 0 Comments




Pelepasan
Remah 7


Kisah sebelumnya Klik disini

Setelah mendapatkan kamar di salah satu hotel, mereka berdua rebahan di atas tempat tidur. Berpelukan erat sambil menonton acara di televisi. Melalui tenggakan alkohol, kembali mengalir berbagai topik pembicaraan diantara mereka, dari keluarga, makanan, mimpi, masadepan, ukuran baju, bioskop favorit, perkerjaan, luka masalalu, tempat nongkorng, hingga warna celana dalam dan pengalaman sexual.
Willy tertawa terpingkal-pingkal mendengar apa yang baru saja Abell katakan, “Beneran kamu belum ngapa-ngapain?” tanya Willy dengan wajah memerah, alkohol sudah menguasai kesadarannya. Abell menggeleng. “sama sekali?” sahut Willy cepat, disusul dengan anggukan ringkas Abell.
“Sumpah deh Will, aku masih perjaka!. Belum pernah ngapa-ngapain! sama sekali! Puas?”
“Lha mau ngapa-ngapain nggak sekarang?” tawar Willy genit penuh nafsu.
“Nggak mau ah, pusing kepalaku! Mau tidur!”
“Jangan tidur dulu dong Bell, ngambang nih aku. Temenin aku minum bentar lagi deh, habis itu baru kita bobo bareng,”
Yo wes cepet! Wes mumet banget ki ndhasku!”

. . . . # # # . . . ...

Pagi menjelang, sinar matahari yang menerobos jendela kaca terlampau menyilaukan. Dalam dekapan pelukan Willy, Abell terbangun dengan kepala pening. Betapa kagetnya dia saat telapak tangannya bersarang di dalam celana dalam Willy. Bersentuhan dengan penisnya yang sedang ereksi penuh. Hangat, keras, panjang dan tegang.
Bingung dengan apa yang terjadi, akhirnya Abell perlahan menarik telapak tangannya dari selakangan Willy. Saat ia hampir mengeluarkan seluruh telapak tangannya, Willy terbagun dan kembali membetulkan posisi tangan Abell seperti saat sebelum mereka bangun. Tersenyum penuh makna, mempererat pelukannya dan mencium jidat Abel dengan mesra.
“Jangan dilepas dulu dong,” pinta Willy manja dengan mata terpejam, “lagi enak. Telapak tanganmu aja udah bikin ngaceng, gimana sama selakanganmu ya bell?”
Semalaman mengenal Willy, dengan sifat spontan dan beragam celetukan yang menghiasi perbincangan mereka, tetap membuat Abell tak nyaman. Apalagi pada saat ia baru bangun tidur seperti ini. Ingin rasanya ia melibas kalimat Willy barusan, tapi efek minuman keras semalam terlanjur berkocol keras di kepalanya.
“Udah deh, nggak usah macem-macem,”
“Bercanda bell, bercanda doang,” sahut Willy cepat, secepat ia merengkuh seluruh tubuh Abell kedalam pelukannya.
Lama mereka berdua diam, sebelum akhirnya Abell membuka suara, “Kenapa copot baju segala sih Will? Bukannya kemarin dingin banget ya?”
“Kebiasaan Bell, biasanya malah nggak pakai apa-apa. Tapi takut kamu risih, jadi ya pakai boxer doang,”
“Tapi kan kemarin malam dingin banget Will,”
“Kan ada kau buat dipeluk, hehehe,”
“Halah,”
Reti ra Bell, Wingi koe ngomong opo pas pisanan ndhemek manukku?”
Ah, emboh Will. Esuk-esuk kok wes ngomongke koyo ngono,” serobot Abell cepat sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Willy.
Iki tenanan yo Bell, udu guyon, sumpah,” pinta Willy memelas. Kembali menarik Abell kedalam pelukannya.
Emange aku ngomong opo?”
Jaremu manukku ki dowo terus enek urate! Hahah,”
Hash! Weslah aku arep adus, sarapan terus bali. Diuntal Andi aku ngko nak dino iki ra ngetok nek cafe,”
Rep adus bareng po?”
Ora! Adus dewe-dewe,”
Ealah Bell, Bell, gur golek kesempatan karo kowe we angele ora umum,”

. . . . # # # . . . ...

Usai mandi, Abell kembali dihadapkan situasi yang membuatnya salah tingkah kembali. Willy yang mondar-mandir dari toilet tanpa sehelai benang sedikitpun, dengan santai ia telanjang kesana-kemari, entah mau merokok, ngopi, mainan hape. Semua ia lakukan tanpa beban.
“Sebenernya kamu mau pamer tatto, badan apa burung kamu sih?” sambar Abell gerah dengan tingkah laku Willy, “nggak jelas banget, buruan mandi. Cari makan terus pulang,” tambahnya gusar.
“Nggak tiga-tiganya Bell,”
“Lha terus kamu maunya apa?”
“Kamu,”
“Dan kalau untuk itu, kamu udah tahu apa jawabannya,”
Jawaban Abell barusan malahan membuat Willy menghampirinya dengan sorot mata yang membuatnya limbung, tanpa disangka-sangka Willy berlutut di depannya, sambil mengenggam kedua tangannya dan menangkupkan ke dalam dadanya. Mata mereka bertemu, membuat Abell bergidik menatap apa yang ada dibalik sorot mata lelaki di depannya. sorot mata yang membuat pendiriannya runtuh.
“Bell,” kata Willy dengan suara merdu, membuat Abell merinding membayangkan gelondongan perasaan yang ada di balik suara itu, “kamu tahukan kalau aku suka sama kamu? Hampir tiap hari aku bilang itu sama kamu, tapi kamu nggak pernah kasih aku jawaban yang tepat,”
Abell membeku. Mulutnya tercekat, tertohok sorot mata di depannya. lalu, ia mengangguk pelan. Berulang Willy mengungkapkan perasaannya, tapi ia tak pernah merasakan gelontoran perasaan sehebat ini sebelumnnya.
“Perasaan itu, sejak awal aku lihat kamu di facebook sampai kemarin pas kita pertama kali bertemu, bahkan sekarang, nggak berubah. Dan mungkin nggak bakal berubah,” aku Willy dengan suara bergidik, sudah lama ia menanti saat seperti ini. Mempersiapkannya. Tak ingin ia menyia-nyiakan kesempatan ini. “aku jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama, kedua dan seterusnya, semoga sampai mati,”
Sekian detik kemudian barulah tangan Abell menangkup wajah lelaki tampan berperut tambun di depannya, “Will,” ucapnya serius, “aku tahu kalau kamu sayang banget sama aku, nggak ada yang pernah ngejar-ngejar aku selama ini, sehebat ini dan sampai kaya gini selain kamu. Tapi, kita baru ketemu kemarin Will. Walaupun kita udah kenal satu tahun, tapi tetap aja terlalu cepat,”
“Satu tahun lebih lho Bell aku ngejar-ngejar kamu,” protes Willy cepat. “coba hitung deh berapa kali kamu nolak aku, ngasih harapan aku, tapi sampai sekarang aku tetep berjuang biar dapetin kamu,”
“Aku tahu Will, aku paham kok gimana perjuanganmu setahun ini,” sahut Abell cepat, “kita emang udah kenal lama di dunia maya Will, tapi di dunia nyata kita baru bertemu dalam hitungan jam.” Hembusan nafas panjang menjadi penjeda suara hati yang kemudian berwujud kata, “kamu, adalah alasanku buat melanggar batas antara dunia nyata dan dunia maya yang aku buat bertahun-tahun yang lalu. Aku sayang kamu Will, sayang banget malah. Tapi, kalau kamu mau kita jalin hubungan lebih lanjut, sebaiknya kita saling mengenal dulu satu sama lain. aku nggak suka hubungan instan, kaya aku nggak suka hal-hal instan lainnya. Aku nggak suka sama filosofi efek soda yang sekali muncul langsung meledak, melimpah ruah penuh busa tapi lenyap sesudahnya. Aku nggak mau jalin hubungan kaya gitu, kamu ngertikan maksutku?”
“Iya, aku paham kok Bell,”
Didekapnya Willy erat-erat, ia ingin berterimakasih untuk apa yang Willy lakukan satu tahun terakhir, “Cepetan mandi sana! Bau tauk!”
“Bukannya bau keringet itu malah bikin terangsang ya?” sahut Willy cengengesan, “sebenernya sih, aku pengennya dimandiin kamu Bell,”
“Nggak usah manja deh! Baru juga ketemu dua hari, gimana kalau kita ketemu seminggu?”
“Ya pastinya aku udah pindah kerumah kamu!”
“Dasar!”
Tak lama kemudian, Willy melengang santai keluar dari kamar mandi. Telanjang dengan uap meruah dari pori-pori tubuhnya. Handuk tergantung lunglai di lehernya, dengan gerakan mengeringkan rambut ia menghampiri Abell yang sedang sibuk menonton berita di televisi dan duduk disampingnya.
“Bell,”
Abell menoleh ke sumber suara. Sebongkah bibir tipis kembali menangkup bibirnya. Hangat, empuk dan membuatnya ingin waktu berhenti. Agar ia bisa terus merasakan sensasi itu.
“Nggak tahu kenapa aku pengen nyium kamu terus Bell,” ujar Willy pasrah.
“Yaiyalah, secara aku punya bibir kelas dunia! Siapapun yang nyoba, pasti nggak bakalan mau nyium orang lain lagi, hehehe,” kata Abell berbangga.
Ciuman panjang kembali Willy daratkan ke bibir Abell.
“Kenapa Triball?” tanya Abell setelah ciuman panjang mereka berakhir. Jemarinya mengelus punggung Willy tempat tatto itu bersemayam.
“Suka aja Bell sama pola ini, Triball itu mencerminkan jiwa yang tangguh dan pemberani. Kaya aku!”
Abell manggut-manggut, dengan ekspresi kekanakan, “Udah lama itu tattonya?”
“Lumayan, kelas dua SMA aku buat tatto ini,”
“Nggak ketahuan guru emangnya?”
“Ya enggaklah, Willy kok sampai ketahuan,” Kata Willy bangga, “aku pakai kaos terus Bell, jadi ya nggak mungkin ketahuan sama siapapun. Temen-temenku aja baru tahu pas kita masuk kuliah kok,”
“Pasti kamu rese banget pas SMA dulu,”
Willy tertawa sambil mengenang, “Ya, lumayan sih Bell. Kalau ukuran anak SMA yang rese itu hobby mbolos, ngompasin duit temen, main remi pas istirahat, bukain rok cewek-cewek, mabuk bareng di belakang sekolah, atau ngocok bareng-bareng di WC, aku salah atunya anak rese di SMA itu. Malahan dua minggu sebelum UN aku hampir dikeluarin, kalau kamu? Masa SMA-nya gimana?”
“Masa SMA-ku biasa-biasa aja kok Will, temen aja bisa dihitung. Aku hampir nggak ada waktu buat sosialisasi sama mereka, waktuku habis buat les. Di keluargaku, mereka semua menguasai kurang lebih empat bahasa Will, pendidikan juga hal paling penting. Jadi menurut mereka, daripada aku pas SMA aneh-aneh, mereka lebih setuju kalau aku nambahin les lagi buat ngisi waktu,”
“Wah gila! Emang kamu les apa aja?” ejek Willy dengan ekspresi wajah menyebalkan.
“Les mata pelajaran yang dibuat UN, terus les piano, les bahasa Jerman, les bahasa Perancis, banyaklah. Pokoknya hari minggu itu hari merdekaku buat tidur seharian,”
“Aku selalu kagum dengan orang yang menguasai banyak bahasa lho Bell,”
“Kenapa harus kagum? Semua bahasa itu ada polanya kok. Kalau kamu paham sama pola itu, semuanya bakal mudah. Lagian banyak bahasa di dunia ini yang sifatnya turunan, pada akhirnya tinggal niat aja kan?”
“Iya sih,”
“Buruan gih, pakai baju. Check out terus cari makan. Udah laper banget nih!”
Willy beranjak dari tempat tidur, menghampiri tas punggungnya dan mengeluarkan beberapa helai pakaian.
“Kamu kok sama sekali nggak keliatan kalau Gay ya Will?” tanya Abell sambil memperhatikan Willy mengenakan pakaian.
“Lha memang bukan,” jawab Willy simpul.
“Lha terus?”
“Aku kan bisex Bell. Jadi suka sama cewek tapi juga suka sama cowok. Hampir imbanglah keduanya,”
“Oh gitu, baguslah,”
“Tapi kalau kamu mau pacaran sama aku, aku bakal jadi apapun yang kamu mau, jadi Gay seumur hidupun, nggak masalah. Gimana? Mau nggak?” tawar Willy lengkap dengan senyum cengengesannya.
Tapi, Abell tak ingin menjawab. Ia hanya tersenyum penuh makna dan mengecup jidat Willy mesra. “Makasih,” kata Abell lembut, sebelum akhirnya mereka berpelukan lama.
Dan kembali berciuman panjang.


Klik kisah selanjutnya di sini





Daftar lengkap serial Pelepasan


Melajulah "Pelepasan"ku klik disini 
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini

Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
Untuk "Pelepasanku" Klik disini
Celoteh di balik Pelepasan Klik disini

You Might Also Like

0 komentar: