Pelepasan Remah 22

1:34:00 AM Admin 0 Comments




Pelepasan
Remah 22


Kisah sebelumnya klik disini


“Dilelang?” kataku kebingungan, berusaha membaca apa yang tersirat di wajah Willy, jaga-jaga jika kekasihku itu sedang kumat jahilannya. Tapi, ia kelihatan serius dengan ucapannya, dan itu membuatku was-was,“dilelang gimana maksutmu?”
“Dilelang di club,” jawabnya santai seolah-olah itu bukan hal besar.
“Dilelang di club malam?” ulangku dengan nada tinggi. Alisku bertaut saat mendengar hal itu, jentungku berdebar kencang.
Tawa Willy berderai, dia paham jika aku akan kaget dengan hal-hal seperti ini, “Iya. Itu juga untuk pertama kali dan terakhir kalinya kok Bell,”
“Yang bener?” kataku sangsi. Aku tak percaya begitu saja.
“Iya beneran. Lagian itu juga pas awal-awal kuliah dulu kok, uang SKSku habis, padahal seminggu lagi mau tes. Pinjem Sandra dia juga lagi nggak pegang uang, pinjem anak-anak mereka juga lagi bokek soalnya akhir bulan. Malemnya si Sandra ngajakin dugem di acara ulang tahun temennya, aku sih iya-iya aja, soalnya udah kepentok nggak bisa mikir lagi. Di club aku nekat minta Sandra buat lelang aku, soalnya udah mepet banget, nggak bisa dispen lagi soalnya udah nunggak dua kali di kampus,”
“Terus kamu di bawa pulang sama siapa?” tanyaku ketus. Aku sama sekali tak suka bahasan kali ini. Ada segumpal emosi di hatiku saat mendengar kisahnya barusan. Tapi itu masa lalu Willy, aku sama sekali tak punya hak untuk marah ataupun jengkel kepadanya.
“Sama tante-tante gembrot super binal, udah tua, keriputan lagi. Itu pengalaman sex paling menjijikan yang pernah aku lakuin,” jelasnya sedikit mengerinyit, “ra bakal tak baleni neh sak jeke urip,” tambahnya bergidik membayangkan kejadian itu.
“Aku nggak nyangka kamu bakal segila itu Will,” kataku sinis. Sebal mendengar pengakuannya barusan.
Lha rep piye neh tho Bell? Nak ora kepepet aku yo ra bakal nglakoni kui tho? Pas kui laptop karo motorku mlebu pegadaian lho,” jawabnya melas. Membuatku merasa bersalah karena mengomentari masalalunya. Aku sadar, aku tak berhak sama sekali menghakimi masalalu orang lain.
Sorry Will, aku sadar nak ora due hak ngomentari masalalumu, soale aku ora enek nek masalalumu kui,” kataku tulus, “tapi nggak tahu kenapa, aku kebawa emosi aja pas denger ceritamu tadi. Gimana ceritanya kok motor sama laptopmu ada di pegadaian?”
It’s okey Bell, it’s not big deal,” sahut Willy menentramkanku, memaklumi penilaian sesaatku, “laptop sama motorku aku gadein buat bayar utangnya Sandra. Dia kalah judi bola online.”
“Judi bola online?” kataku tak percaya. Belum satu jam aku mampir di rumahnya aku sudah dibuat shock beberapa kali.
“Dulu dia hutang sampe dua puluh enam juta, coba bayangin deh Bell.” Ungkap Willy dengan ekspresi tak jelas antara menyesal dan bangga,“anak kuliahan, cuma kerja sampingan jaga warnet, sukanya hura-hura tiba-tiba harus bayar hutang dua puluh enam juta. Ribet banget deh hidup kita dulu. Tapi sebusuk-busuknya tingkah kita dulu, sebisa mungkin ibu nggak ngerti kelakuan di luar, biar nggak hawatir. Tapi kalau diinget-inget sekarang cuma bisa dijadiin bahan bercandaan aja, konyol banget soalnya hidup kita berdua dulu,”
“Tapi aku suka kok lihat hubunganmu sama Sandra,” Pujiku tulus, mungkin karena hubunganku dan kakakku tak berjalan seperti itu,dan sekarang kita malah tak punya hubungan sama sekali, “kalian kakak beradik tapi kompak kaya sahabat. Enak punya kakak kaya gitu, kaya punya temen main terus di rumah, asik gitu lihatnya,”
Nak Sandra ra sah di takoke neh, pancen asik wonge,” jelas Willy bangga, “tapi dia bakal jadi jahil banget kalau Rio liburan kesini,”
“Wah kasian Rio dong kalau gitu,”
“Tapi nyenengin kok liat mereka berdua,” kata Willy cengengesan, “Sandra yang super binal sama Rio yang kikuk, pendiam dan rada introvet,”
Aku terbahak saat membayangkan interaksi yang Willy maksut. Itu pasti konyol sekali. Malahan sampai-sampai aku ngebayangin interaksi antara tante-tante hipersex dan seorang perjaka yang pengen ngesex buat pertama kali. Lho kok, kaya familiar banget ya kisahnya? Batinku sambil terbahak sambil menatap Willy.
Willy beranjak dari jendela usai menandaskan rokoknya di dalam asbak. Ia merebahkan dirinya di atas ranjang dan memintaku untuk tiduran di lengannya sambil meneruskan obrolan kami barusan hingga akhirnya kami terseret ke alam mimpi di malam yang hampir tandas dalam pekat. Hari itu tak ada mimpi, udara dingin yang mampir lewat jendela terbuka dan sayup-sayup adzan subuh yang terlampau menggema membangunkanku.
Kututup jendela yang terlalu banyak menguarkan udara dingin ke dalam kamar. Willy tak ada disisiku, jika dia ada aku hanya cukup memeluknya erat dan bersarang diantara lengan dan dadanya untuk kembali terlelap. Apa dia lagi ke kamar mandi?, batinku. Tapi karena Willy tak juga kembali setelah lima belas menit akhirnya kuputuskan keluar kamar dan menelusuri anakan tangga beralaskan kayu.
Dalam remang, aku telusuri belasan bingkai foto yang tergantung di bawah tangga. Ujung tatapku hinggap satu persatu diantara belasan gambar yang ada disana, ada sebuah foto keluarga dalam formasi lengkap disana, mungkin itu sepuluh tahun yang lalu. Sandra masih nampak belia di potret keluarga itu, Willy masih seperti anak SD dan Rio masih duduk di pangkuan ibunya dengan senyum sumringah. Banyak sekali moment yang diabadikan di rumah ini, tapi kebanyakan foto Rio yang hadir di dinding kenangan itu, masih dipajang apa enggak ya fotoku di rumah? Kataku miris dalam hati. Hatiku berdesir saat teringat kenangan terakhirku di rumah itu, ketika aku menelusuri belasan pigura foto yang terpajang di dinding rumahku. Saat aku mengurut kenangan yang mungkin akan mereka tanggalkan.
Sesampainya di dapur, kutemukan sosok yang kucari disana, menghadap sebuah magkok berukuran lebar di depannya.
“Lho kok bangun?” tanya Willy sambil menyeruput ramen di depannya.
Kademen Will,” jawabku sambil bersedekap, “adzan nek kene kok gemawang banget yo?” lanjutku menghampirinya di meja makan, menarik mangkoknya ke arahku dan langsung menyambar sumpitnya. Turut menyantap mie ramen buatannya. “mantep banget mangan ramen subuh-subuh ngene,”
Piye ra gemawang? Lha masjide we cedhak soko kene, aku mau tangi yo goro-goro luwih kok Bell. Kroncongan banget wetengku mau, wes tak merem-merem ke tetep ra iso turu neh, yoweslah, gawe ramen wae,” ungkap Willy beranjak ke arah kulkas, menarik sup buah dari dalam sana, “koyoe wingi bar enek acara ki bue,”lalu meletakkan cawan berukuran besar itu di tengah meja makan, mengicipinya sesendok, “masih seger kok,” serunya langsung mengambil satu mangkuk kecil.
“Habis ini mau ngapain ya? Mau tidur lagi nangung banget, pasti kita ntar bangunnya di atas jam satu. Mau ke Reve ini bukan jatahku buat jaga,” keluhku, “mau baca buku kayaknya disini nggak ada buku,”
“Kalau mau baca komik banyak kok di kamarnya Rio,”
“Nggak mau ah, tabletmu mana say?” tanyaku sambil menandaskan putaran terakir ramenku, “aku mau baca CNN aja,”
“Bentar aku ambilin,” kata Willy beranjak ke ruang tengah, kembali ke dapur beberapa saat kemudian membawa tablet dan menyerahkannya padaku.
Tak sampai setengah jam kemudian, setelah ku baca berita-berita pagi, kuletakkan tablet di atas meja. Beranjak ke kulkas dan meraih air putih dan menenggaknya langsung.
“Tumben cepet banget baca beritanya,” sambar Willy mengomentariku, “biasanya kalau mainan tablet lebih dari atu jam,”
“Lagi males aja,” sahutku cepat, memberenggut jengkel, “kebanyakan berita buruknya daripada yang baik,”
“Selamat datang di Indonesia kalau gitu Bell,” ujar Willy seakan memaklumi kejengkelanku, “berita buruk lebih menarik sih soalnya,”
”Kadang aku juga bingung sih sama kebiasaan banyak orang disini, seneng banget sama berita buruk daripada berita baik. Terus, sukanya juga baca headlinenya doang, tanpa mau klarifikasi ulang berita yang tayang.” Cerocosku sebal, “padahalkan, nggak semua yang wartawan tulis itu kebenaran mutlak? Sekarang banyak banget lho media yang memihak tokoh dan berkepentingan ganda yang akhirnya menggiring opini masyarakat. Harusnya mereka itu independet, nggak condong ke satu sudut doang,”
Lha rep piye neh jal?” ujar Willy melempar bola padaku, “lha saiki won-wong seng due kepentingan kok seng nyekel media-media nasional, terus terjun ke dunia politik pada akhirnya. Seakan-akan mereka bisa membuat negara ini lebih baik,”
“Kamu terlalu pesimis kalau bilang Indonesia nggak bisa lebih baik lagi Will,” kataku semangat, “kita punya banyak sekali potensi buat bangun negara ini lebih baik, tinggal orang-orang yang pegang kekuasaan pada akhirnya. Tapi kalau ngomongin berita itu lagi ya Will, aku pernah iseng-iseng ngitung berita baik dan berita buruk dalam satu koran. Tahu nggak hasilnya? Delapan puluh persen berita yang ditulis di koran pagi yang aku baca itu berita buruk, entah kecelakaan, pemerkosaan, korupsi, bencana alam. Intinya berita buruk itu lebih menjual daripada berita baik.”
“Yah, kalau itu maklumlah.”
“Tapi, tahu nggak sih Will? Hal-hal kaya gitulah yang pada akhirnya bikin kita apatis, nggak mau tahu, ora ngagasan, karena kita tiap hari disuguhi berita-berita buruk kaya gitu. Coba deh kamu bayangin, kalau berita baik itu posisinya lebih banyak, pasti kita bakal lebih positif jadi orang. Soalnya yang aku pahami, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, pada akhirnya akan mempengaruhi sikap kita dalam mengambil keputusan dan akhirnya menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Nah, kalau kita tiap hari disuguhi berita buruk terus-terusan jadinya kaya kamu gitu deh, apatis sama lingkungan,”
“Nyindir neh,” sahutnya sebal.
“Eh, kita sepedaan yuk Will,” pintaku semangat saat teringat sepeda ontel di garasi rumahnya saat tour singkat keliling rumahnya kemarin malam,, “udah lama nih aku nggak sepedaan, kayaknya asik deh sepedaan pagi-pagi keliling sawah,”
Jare kademen?
Lha makane kui, gen ora kademen ki obah,” kataku memaksa, “sama lihat sunrise di sawah kayaknya romantis deh, udaranya seger lagi,”
“Okey-okey, ayok,” ucap Willy menyetujui permintaanku.



Kisah selanjutnya Klik disini




Daftar lengkap serial Pelepasan


Melajulah "Pelepasan"ku klik disini 
Pelepasan Remah ke 1 klik disini
Pelepasan Remah ke 2 Klik disini
Pelepasan Remah ke 3 Klik disini
Pelepasan Remah ke 4 Klik disini
Pelepasan Remah ke 5 Klik disini
Pelepasan Remah ke 6 Klik disini
Pelepasan Remah ke 7 Klik disini
Pelepasan Remah ke 8 Klik disini
Pelepasan Remah ke 9 Klik disini
Pelepasan Remah ke 10 Klik disini
Pelepasan Remah ke 11 Klik disini
Pelepasan Remah ke 12 Klik disini
Pelepasan Remah ke 13 Klik disini
Pelepasan Remah ke 14 Klik disini
Pelepasan Remah ke 15 Klik disini
Pelepasan Remah ke 16 Klik disini
Pelepasan Remah ke 17 Klik disini
Pelepasan Remah ke 18 Klik disini
Pelepasan Remah ke 19 Klik disini
Pelepasan Remah ke 20 Klik disini
Pelepasan Remah ke 21 Klik disini
Pelepasan Remah ke 22 Klik disini
Pelepasan Remah ke 23 Klik disini
Pelepasan Remah ke 24 Klik disini
Pelepasan Remah ke 25 Klik disini
Pelepasan Remah ke 26 Klik disini
Pelepasan Remah ke 27 Klik disini
Pelepasan Remah ke 28 Klik disini
Pelepasan Remah ke 29 Klik disini
Pelepasan Remah ke 30 Klik disini
Pelepasan Remah ke 31 Klik disini
Pelepasan Remah ke 32 Klik disini
Pelepasan Remah ke 33 Klik disini
Pelepasan Remah ke 34 Klik disini
Pelepasan Remah ke 35 Klik disini
Pelepasan Remah ke 36 Klik disini
Pelepasan Remah ke 37 Klik disini
Pelepasan Remah ke 38 Klik disini
Pelepasan Remah ke 39 Klik disini
Pelepasan Remah ke 40 Klik disini
Pelepasan Remah ke 41 Klik disini
Pelepasan Remah ke 42 Klik disini
Pelepasan Remah ke 43 Klik disini
Pelepasan Remah ke 44 Klik disini
Pelepasan Remah ke 45 Klik disini
Tongkat Estafet Kedua Klik disini
14 Fakta Di Balik Serial Pelepasan Klik disini
Untuk "Pelepasanku" Klik disini
Celoteh di balik Pelepasan Klik disini

You Might Also Like

0 komentar: